Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image >
Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Sejarah Rubik

0 komentar

Apa yang terlintas dalam pikiran anda sejenak ketika berbicara tentang rubik’s cube atau sebut saja rubik? Sebagai permulaan, pastilah ada beberapa orang yang bertanya dalam hatinya: hal, benda, atau ilmu macam apa itu rubik? Bagi mereka yang belum tahu apa itu rubik, seketika mereka tahu tentang rubik, secara psikologis, ada yang hanya ingin sekedar tahu, dan beberapa ingin tahu lebih dalam. Rasa ingin tahu memang menjadi pemicu seseorang untuk menapaki lebih jauh perihal atau ilmu tentang rubik.

Secara sederhana, rubik’s cube atau rubik merupakan suatu jenis permainan. Bentuk rubik bervariasi, mulai dari rubik kubus, kubus tanpa poros, bola, dan heksagonal. Namun, diantara sekian jenis rubik itu, rubik kubus, khususnya kubus dengan dimensi 3 x 3 lebih memperoleh ketenaran tersendiri dalam pandangan publik. Bagi mereka yang sudah tahu sedikit tentang rubik, beberapa hanya berpikir tentang bentuk 3 x 3 yang eksis dalam dunia rubik. Lebih lanjut, bagi mereka yang memiliki rasa keingintahuan yang besar, pastilah mereka ingin memahami cara permainannya. Kemenangan dalam permainan ini secara mendasar diraih ketika anda berhasil menyusun 6 warna pada tiap sisi kubus (rubik) menjadi sama.

Sejarah rubik

Dari negara manakah rubik berasal? Mulanya, saya mengira jepanglah pencetus mainan kreatif ini. Namun, penerawangan saya kurang tepat. Walaupun banyak orang Jepang, khususnya anak-anak, bermain rubik, sejatinya Rubik’s Cube secara resmi lahir pada tahun 1974 di Budapest, ibukota Hungaria. Mengacu pada penafsiran Alfredo Fernando tentang definisi rubik’s cube bahwa rubik adalah suatu permainan, rubik terlahir bukan secara biologis melainkan melalui suatu penemuan dan penelitian yang jenius dari seorang dosen bernama Erno Rubik.

Penemu permainan rubik’s cube

Walaupun tahun 1974 menjadi ajang peresmian rubik, proses-proses yang mengarah ke penemuan dimulai beberapa tahun sebelumnya. Pada waktu itu, Erno Rubik adalah seorang dosen di Departemen Desain Interior di Akademi Seni Terapan dan Kerajinan di Budapest. Beliau memiliki minat dalam geometri, dalam studi tentang bentuk-bentuk 3D, dalam konstruksi dan dalam mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi kombinasi bentuk dan bahan, bukan hanya secara teori, tapi juga dalam praktiknya.

Dalam perjalanannya, Erno Rubik lebih suka mengkomunikasikan ide-idenya dengan menggunakan model nyata, terbuat dari kertas, kardus, kayu atau plastik, dan menantang murid-muridnya untuk melakukan percobaan dengan memanipulasi bahan yang dibangun secara jelas dan mudah diinterpretasikan sebagai suatu bentuk. Itu adalah kesadaran bahwa unsur-unsur paling sederhana sekalipun, jika secara cerdik dan kreatif digunakan dan dimanipulasi, akan menghasilkan berbagai bentuk yang bermanfaat. Kesadaran inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran rubik’s cube.

Pada 1978, tanpa promosi atau publikasi, rubik mulai perlahan-lahan digemari kalangan remaja dan pemuda.Melalui penyampaian lisan, dari mulut ke mulut, berita tentang rubik menyebar luas, dan pada awal tahun 1979, terdapat berbagai kelompok antusias penggemar rubik di berbagai wilayah Hungaria.

Pengaruh dan manfaat rubik

Tantangan untuk berusaha menguasai permainan ini, yakni untuk dapat mengembalikan seluruh enam sisi kubus menjadi warna aslinya, tampaknya memiliki efek hipnotis pada beragam individu yang luar biasa tanpa mengenal batasan umur, pekerjaan, kekayaan dan kedudukan sosial. Namun, adalah anak muda, anak sekolah dan mahasiswa, yang berada di barisan terdepan dalam membuat gerakan besar-besaran perkembangan rubik yang melanda dunia. Mereka adalah orang-orang yang terbukti paling ahli dalam memecahkan teka-teki, membentuk klub rubik’s cube, mengatur tata cara kompetisi rubik, dan yang terpenting adalah bahwa mereka rela menderita sakit pergelangan tangan untuk bermain rubik terus-menerus selama berjam-jam dan bahkan berhari-hari dengan sebuah teka-teki tiga dimensi nan misterius itu.

Lukisan wajah orang yang tersusun dari rubik

Selain pengaruh secara mendunia, rubik’s juga memiliki pengaruh dalam hal paradigma. Dalam masyarakat modern, aktor permainan rubik akan dianggap sebagai seorang jenius apabila dapat menyelesaikan permainan itu. Apalagi, jika sang pemain mampu meyelesaikan rubik dalam waktu sangat singkat. Sebagai teladan (contoh yang baik), Erik Akkersdiijk, seorang berkebangsaan belanda, mampu menyelesaikan suatu rubik 3×3 teracak hanya dalam waktu 7,08 detik. Lantas, paradigma yang muncul adalah bahwa ia seorang jenius, lalu pada akhirnya beberapa orang mulai terpatri pemikirannya bahwa rubik’s cube merupakan permainan yang jenius.

Memang, secara biologis, permainan rubik dapat dirasakan manfaatnya. Pertama, melatih saraf sensorik, ketika anda belajar mengenali warna dan pola dari bentuk 3D rubik. Kemudian, saraf motorik juga akan terlatih, karena koordinasi jari-jari tangan dalam bermain, terutama dalam melakukan speedcubing (bermain dengan kecepatan tinggi). Lebih jauh, rubik’s cube akan melatih daya ingat ketika si pemain melakukan memorisasi pola-pola tertentu untuk menyelesaikan rubik yang teracak. Dan, terakhir, permainan ini akan melatih logika geometri atau susun bangun dalam kerangka otak pemain rubik.

Melalui tulisan ini, saya sama sekali tidak mengharapkan pembaca sekalian untuk membeli rubik dan kemudian memprioritaskan rubik dalam 24 jam hidup anda tiap harinya. Terlalu hiperbola rasanya pernyataan tersebut. Namun, terkilas dalam bayangan saya, alangkah berfaedahnya permainan simpel dan praktis ini digunakan dalam mengisi waktu luang anda, khususnya untuk anak-anak.

Sungguh ironis jika melihat anak-anak abad XXI di Indonesia mengisi waktu luang mereka dengan menonton sinetron yang kurang – bahkan cenderung tidak – mendidik dan bermanfaat. Dengan mempertimbangkan berbagai manfaat permainan rubik dan ajakan persuasif saya yang tersirat dalam judul tulisan ini, saya rasa permainan ini juga akan sangat bermanfaat bagi orang tua yang ingin membelikan mainan untuk sang buah hati. Jika sebagian besar anak Indonesia memainkan rubik, bukan tidak mungkin, tingkat kecerdasan anak Indonesia pun akan meningkat.

refrensi : http://hiburan.kompasiana.com

Alexander Graham Bell ternyata bukan penemu telepon

0 komentar

Antonio Meucci Selama ini tokoh yang dikenal sebagai penemu telepon adalah Alexander Graham Bell. Tetapi, sepertinya sejarah harus ditulis ulang karena sebenarnya yang menemukan telepon adalah Antonio Meucci. Antonio Meucci konon telah mulai merancang telepon pada tahun 1849 di Milano, Italia dan mematenkan hasil karyanya pada tahun 1871.
Pada tahun 1850, Meucci pindah ke Staten Island, New York. Saat istrinya lumpuh di tahun 1855, Meucci memasangkan sistem interkom dari rumahnya ke tempat kerjanya tak jauh dari sana. Antara tahun 1850 dan 1862, Meucci telah mengembangkan paling tidak 30 buah model telepon. Namun sayangnya dikarenakan ia sakit keras dan perekonomian yang sulit, istrinya terpaksa menjual beberapa alat-alat ciptaannya hanya seharga enam dolar untuk biaya pengobatan.

Pada 1860, dia sempat mendemonstrasikan penemuannya kepada publik, dan dimuat di sebuah koran berbahasa itali di New York. Meucci menamakan penemuannya itu teletrofono. Meucci mengajukan paten telepon pada 28 Desember tahun 1871. Tetapi pemrosesan di negara kapitalis itu lama dan terus memerlukan uang. Karena tak cukup uang untuk membayar paten telepon tersebut, akhirnya Meucci hanya mampu membayar 'caveat', yaitu semacam sertifikat paten yang harus diperbaharui setiap tahun.

Pada tahun 1874, Meucci juga sempat membawa model baru dan segala keterangan mengenai penemuannya itu pada wakil ketua perusahaan telegraf Western Union. Namun setiap kali Meucci hendak menemui wakil ketua ini, Edward B.Grant selalu mengatakan bahwa dia tak ada waktu. Dua tahun kemudian, saat Meucci meminta kembali semua materi telepon di perusahaan tersebut, ternyata mereka hanya mengatakan telah "hilang".

Tahun 1874, Meucci tak sanggup lagi membayar biaya pemrosesan paten. Dan pada tahun 1876, Alexander Graham Bell memperoleh paten untuk telepon, dan menyandang nama sebagai penemu telepon. Setelah Meucci mengetahuinya, ia memanggil seorang pengacara untuk memprotes pada Kantor Paten Amerika Serikat di Washington. Di pengadilan, Meucci memaparkan penemuannya secara meyakinkan, sehingga diyakini Meucci akan memenangkan sidang. Namun sayang, Meucci mengalami kekalahan untuk kasus ini.

Kemudian pada 18 januari 1887 pemerintah Amerika meninjau kembali hak paten Alexander Graham Bell atas telepon dengan dasar fraud and misrepresentation. Setelah adanya permusuhan antara Alexander Graham Bell dengan Western Union baru terungkap bahwa Bell sebelumnya telah menyetujui membayar dua puluh persen keuntungan komersil atas "penemuannya" selama 17 tahun kepada Western Union.

Hak paten Bell kedaluwarsa pada 1893, dan oleh karena itu kasus paten telepon akhirnya tidak diteruskan di pengadilan, tanpa pembuktian kebenaran siapa penemu telepon. Seandainya saja Meucci mampu membayar sepuluh dolar untuk melanjutkan caveat-nya atas telepon setelah tahun 1874, pasti tidak akan ada hak paten yang dikeluarkan untuk atas nama Alexander Graham Bell.
Antonio Meucci meninggal dalam kemiskinan pada Oktober 1889. Lebih dari seabad seluruh penjuru dunia mengakui Alexander Graham Bell dikenal sebagai penemu telepon. Akhirnya pada tanggal 15 Juni 2002, 113 tahun setelah Meucci meninggal, US congress akhirnya resmi mengakui Antonio Meucci sebagai penemu telepon, dan bukan Alexander Graham Bell.

sumber : http://engineeringtown.com/kids/index.php/penemu/81-antonio-meucci